• Senin, 12 Oktober 2026

INVESTIGASI: Menguak Tabir Tiket 'Siples' KM Pangrango-Mengapa Penumpang Masih Terlantar di Emperan Kapal?

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:29 WIB
INVESTIGASI: Menguak Tabir Tiket 'Siples' KM Pangrango-Mengapa Penumpang Masih Terlantar di Emperan Kapal?
INVESTIGASI: Menguak Tabir Tiket 'Siples' KM Pangrango-Mengapa Penumpang Masih Terlantar di Emperan Kapal?

MAHATVA.ID -Pemandangan penumpang yang tidur berdesakan di emperan dek, beralaskan tikar tipis di bawah suhu AC yang menusuk, seolah menjadi "tradisi" wajib dalam pelayaran kelas ekonomi. 

Namun, sebuah fakta mengejutkan dari balik dek KM Pangrango baru saja terkuak, memicu radiasi pertanyaan besar: Apakah penderitaan penumpang non-seat adalah akibat ketidaktahuan informasi atau celah birokrasi yang sengaja dibiarkan?

Selama ini, status "Non-Seat" dianggap sebagai tiket nasib buruk. tiket yang memaksa penumpang mencari celah kosong di lorong-lorong kapal. 

Investigasi terbaru mengungkap adanya sistem "Add-on Siples" (Sleeper) yang selama ini menjadi misteri bagi pengguna jasa KM Pangrango.

Siples: Kemewahan yang 'Tersembunyi

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa penumpang sebenarnya bisa mendapatkan tempat tidur layak asalkan paham mekanisme "Add-on". Ironisnya, banyak penumpang yang mencoba melakukan upgrade di atas kapal justru menemui jalan buntu.

"Itu tambah 100 ribu keluar soalnya. Tapi bukan di atas kapal. Di atas kapal tidak ada pembayaran," ungkap seorang sumber internal dalam sebuah diskusi yang terekam.

Faktanya, tiket "Siples" ini adalah layanan tambahan (service upgrade) untuk kategori wisata, terutama pada kapal-kapal tertentu seperti KM Pangrango. Harganya? Cukup dengan merogoh kocek sekitar  Rp110.000, seorang penumpang ekonomi bisa mencicipi fasilitas kasur di Dek 4.

Birokrasi 'Add-on' di Darat, Penderitaan di Laut

Pemicu utama banyaknya penumpang terlantar di emperan adalah sinkronisasi informasi yang buruk. Untuk mendapatkan kasur tersebut, penumpang tidak bisa membelinya secara mendadak kepada petugas di atas kapal. Sistem Pelni mewajibkan penumpang untuk:

1. Membeli tiket ekonomi (termasuk non-seat) terlebih dahulu.

2. Mendatangi kantor cabang Pelni di pelabuhan keberangkatan (seperti di Ambon atau Banda).

3. Melakukan transaksi "Add-on" atau upgrade kelas secara resmi di kantor tersebut.

Masalahnya, mayoritas penumpang baru menyadari "kedinginan" dan "ketidaknyamanan" saat kapal sudah lepas tambat. Di atas kapal, kebijakan berubah menjadi zona abu-abu. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X