• Senin, 12 Oktober 2026

Tim Ekspedisi Patriot 2026 Terjun ke 53 Kawasan Transmigrasi, AHY Dorong Kebijakan Berbasis Riset

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 30 Juli 2026 | 22:26 WIB
Tim Ekspedisi Patriot 2026 Terjun ke 53 Kawasan Transmigrasi, AHY Dorong Kebijakan Berbasis Riset
Tim Ekspedisi Patriot 2026 Terjun ke 53 Kawasan Transmigrasi, AHY Dorong Kebijakan Berbasis Riset

JAKARTA, MAHATVA.ID – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa data empiris dari lapangan akan menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan AHY saat memberikan pembekalan kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang akan diberangkatkan oleh Kementerian Transmigrasi (Kementrans) di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Sebanyak 1.476 peserta yang terdiri dari mahasiswa, peneliti, hingga guru besar dari 10 perguruan tinggi negeri mitra bersama ratusan perguruan tinggi lain di dalam maupun luar negeri akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi, terutama di wilayah Indonesia Timur. Mereka akan melanjutkan pemetaan dan pengembangan potensi kawasan yang telah dirintis oleh Tim Ekspedisi Patriot pada 2025.

AHY menilai pendekatan pembangunan berbasis riset dan kondisi riil di lapangan merupakan strategi penting dalam mendorong pemerataan pembangunan nasional, terlebih dengan keterlibatan generasi muda sebagai motor penggeraknya.

"Kami ingin membangun kawasan transmigrasi yang menjadi magnet baru bagi investasi, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujar AHY dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Menurut AHY, hasil observasi para peserta akan memberikan rekomendasi yang berangkat dari kondisi nyata di lapangan sehingga dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 akan melanjutkan riset dan pemetaan yang dimulai sejak 2025 dengan mengidentifikasi berbagai potensi sekaligus tantangan di kawasan transmigrasi. Kajian tersebut mencakup sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pengelolaan sumber daya alam sebagai bagian dari upaya memperkuat industrialisasi dan hilirisasi di daerah.

Hasil penelitian diharapkan mampu menjadi referensi strategis bagi pemerintah dalam mengembangkan kawasan transmigrasi sesuai karakteristik dan keunggulan masing-masing wilayah.

AHY juga menegaskan bahwa paradigma pembangunan transmigrasi telah mengalami perubahan signifikan.

"Yang dahulu paradigmanya adalah memindahkan penduduk keluar Pulau Jawa, kini paradigmanya berubah menjadi bagaimana membangun kawasan-kawasan tersebut agar menjadi daya tarik bagi perpindahan penduduk, masuknya investasi, serta mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," jelasnya.

Ia berharap seluruh hasil penelitian yang dilakukan para peserta dapat dipertanggungjawabkan secara akademis sekaligus menjadi pelengkap data pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi.

"Mudah-mudahan ketika masukan akademis bertemu dengan kebijakan strategis di tingkat pusat, akan lahir kebijakan yang benar-benar efektif dan dapat dijalankan dengan baik," ungkap AHY.

Menurutnya, data empiris yang diperoleh langsung dari lapangan akan menjadi landasan penting dalam menghasilkan kebijakan pembangunan yang adaptif, berbasis kebutuhan masyarakat, dan mampu mendorong kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X