• Rabu, 14 Oktober 2026

Willy Aditya Usulkan Pojok Baca di DPR untuk OB, Sopir hingga Petugas Keamanan, Dorong Literasi untuk Semua

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 29 Juni 2026 | 19:59 WIB
Willy Aditya Usulkan Pojok Baca di DPR untuk OB, Sopir hingga Petugas Keamanan, Dorong Literasi untuk Semua
Willy Aditya Usulkan Pojok Baca di DPR untuk OB, Sopir hingga Petugas Keamanan, Dorong Literasi untuk Semua

JAKARTA, MAHATVA.ID – Anggota DPR RI, Willy Aditya, mengusulkan pembentukan pojok baca di sejumlah titik transit di lingkungan DPR RI sebagai upaya memperluas akses literasi bagi seluruh pekerja, mulai dari office boy (OB), cleaning service (CS), sopir, hingga petugas keamanan dalam (Pamdal).

Usulan tersebut disampaikan Willy saat menjadi pembicara dalam talk show Festival Literasi DPR bertajuk Literasi Budaya untuk Demokrasi: Merawat Kearifan, Menguatkan Kebangsaan yang digelar di Perpustakaan DPR RI, Senayan, Jakarta.

Menurut Willy, gerakan literasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat dengan menghadirkan ruang baca yang mudah diakses oleh seluruh kalangan.

"Niat baik membangun literasi bisa dimulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita, untuk orang-orang di lingkungan kita sendiri," ujar Willy dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).

Politisi Partai NasDem itu membayangkan area-area yang selama ini hanya menjadi tempat singgah, seperti basement, area parkir, maupun ruang istirahat karyawan, dapat diubah menjadi pojok baca yang menyediakan berbagai koleksi buku.

Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membuka kesempatan bagi para pekerja pendukung di DPR untuk meningkatkan wawasan melalui budaya membaca.

"Saya membayangkan ruang-ruang yang selama ini hanya menjadi tempat transit, bisa menjelma menjadi jendela pengetahuan yang accessible, yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang seragam yang mereka kenakan," katanya.

Willy menilai para OB, CS, sopir, hingga Pamdal memiliki kontribusi besar dalam mendukung aktivitas DPR sehingga mereka juga berhak memperoleh akses literasi yang sama.

Ketua Komisi XIII DPR RI itu menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami, mengakses, serta menggunakan informasi secara kritis.

Menurutnya, literasi adalah hak seluruh warga negara tanpa memandang profesi.

"Literasi bukan sekadar mengetahui dan bukan hanya milik mereka yang duduk di bangku seminar atau sekolah. Literasi adalah milik semua pihak dan kalangan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan literasi merupakan bagian dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam paparannya, Willy turut menyinggung masih rendahnya tingkat literasi di Indonesia yang tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) serta masih ditemukannya peserta didik di sejumlah daerah yang belum mampu membaca dengan baik.

Karena itu, ia mendorong agar akses terhadap bahan bacaan semakin diperluas kepada seluruh lapisan masyarakat.

"Indonesia masih memiliki tantangan dalam hal literasi. Maka berbagai pendekatan untuk meningkatkan minat baca masyarakat perlu semakin diperbanyak, termasuk memperluas akses membaca untuk masyarakat dari semua kalangan," ujarnya.

Tak hanya menyampaikan gagasan, Willy juga membagikan buku harian kepada petugas kebersihan, petugas keamanan, dan karyawan DPR yang hadir dalam Festival Literasi.

Ia berharap budaya menulis dapat tumbuh seiring meningkatnya kebiasaan membaca.

"Bukan buku tebal berisi teori. Hanya sebuah buku catatan kecil dengan harapan besar bahwa menulis, seperti membaca, bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh dari keseharian. Mana tahu, lahir seorang sastrawan, pujangga, dan cerpenis baru dari DPR ini," pungkas Willy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X