• Minggu, 18 Oktober 2026

Hardiknas 2 Mei: Jambormias Tegaskan Pendidikan Tak Boleh Seremonial, Desak Aksi Nyata

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 05:11 WIB
Hardiknas 2 Mei: Jambormias Tegaskan Pendidikan Tak Boleh Seremonial, Desak Aksi Nyata
Hardiknas 2 Mei: Jambormias Tegaskan Pendidikan Tak Boleh Seremonial, Desak Aksi Nyata

MAHATVA.ID -Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei kembali digelar, namun sorotan menguat: pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni. Di tengah persoalan akses, mutu, dan pemerataan, publik didesak melihat momentum ini sebagai titik tekan perubahan nyata, Sabtu (2/5) dini hari.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Selatan, Soleman Jambormias, menegaskan pendidikan harus menjadi gerakan kolektif yang hidup, bukan sekadar agenda tahunan. Ia menilai tanpa aksi konkret, peringatan hanya berulang tanpa dampak.

“Pendidikan adalah fondasi utama untuk menciptakan generasi cerdas, berdaya saing, dan berkarakter. Ini bukan tugas pemerintah semata, tetapi tanggung jawab bersama,” tegas Jambormias.

Lebih jauh, ia menekankan budaya belajar dan inovasi harus tumbuh di tengah masyarakat. Tanpa itu, jargon “Merdeka Belajar” berisiko kehilangan makna di lapangan.

Kondisi riil di sejumlah daerah menunjukkan tantangan belum mereda. Keterbatasan tenaga pendidik, kesenjangan fasilitas, dan akses teknologi masih menjadi hambatan yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia.

Situasi ini menuntut intervensi yang terukur dan berkelanjutan. Tanpa pembenahan sistematis, upaya mencetak generasi unggul hanya akan berhenti pada retorika kebijakan.

Hardiknas, di sisi lain, menjadi momen reflektif atas warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Negara dituntut hadir memastikan hak pendidikan warga tidak sekadar dijamin, tetapi juga terpenuhi secara merata.

Di tengah kompetisi global, pendidikan tidak cukup hanya tersedia. Kualitas dan relevansi menjadi kunci agar generasi muda mampu bertahan dan bersaing.

Karena itu, seruan “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” harus diterjemahkan dalam kolaborasi nyata lintas sektor. Pemerintah, guru, orang tua, dan pemuda dituntut bergerak dalam satu arah.

Jika tidak, kesenjangan akan terus melebar dan memperlemah fondasi pembangunan. Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi pada daya saing bangsa secara keseluruhan.

Momentum 2 Mei pun menjadi ujian keseriusan. Bukan seberapa meriah diperingati, melainkan seberapa kuat kebijakan dan tindakan dihadirkan untuk menjawab persoalan pendidikan hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X