• Kamis, 15 Oktober 2026

Presiden Prabowo Subianto Tinjau TPST Banyumas, Dorong Model Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Rabu, 29 April 2026 | 15:13 WIB
Presiden Prabowo Subianto Tinjau TPST Banyumas, Dorong Model Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular
Presiden Prabowo Subianto Tinjau TPST Banyumas, Dorong Model Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

Banyumas, MAHATVA.ID – Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi.

Dalam peninjauan tersebut, Presiden melihat langsung proses pengolahan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk pemanfaatan teknologi untuk mengurangi volume sampah serta menghasilkan berbagai produk turunan. TPST BLE Banyumas dinilai sebagai contoh nyata transformasi pengelolaan sampah modern yang mengusung prinsip ekonomi sirkular.

“Ini saya kira sangat efektif dan bisa menjadi contoh untuk banyak provinsi, kabupaten, bahkan negara lain,” ujar Presiden kepada awak media.

Presiden juga menekankan bahwa keberhasilan TPST BLE tidak semata bergantung pada teknologi canggih, melainkan pada sistem yang terintegrasi dari tingkat rumah tangga hingga kabupaten.

“Sebagian besar menggunakan produk lokal dan berjalan dalam satu sistem yang utuh. Ini yang membuatnya efektif,” jelasnya.

Fasilitas yang tersedia di TPST BLE Banyumas antara lain pre shredder, tromol screen, pencacah organik, mesin pembersih sampah, serta konveyor untuk mendukung proses pemilahan dan pengolahan secara efisien. Selain mampu mengurangi beban sampah, keberadaan TPST ini juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

Dari proses pengolahan tersebut, dihasilkan berbagai produk bernilai tambah seperti genteng plastik, paving block berbahan plastik (manual dan injection), maggot segar, kasgot (pupuk organik), hingga bahan bakar alternatif berupa refuse-derived fuel (RDF).

Langkah ini menjadi bagian dari visi besar pemerintah dalam mendorong ekonomi hijau dan kemandirian daerah melalui pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Sampah yang selama ini menjadi persoalan, diharapkan dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang produktif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X