MAHATVA.ID - Sebuah jet tempur Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh di atas wilayah Iran, memicu operasi pencarian dan penyelamatan intensif terhadap awak pesawat yang diduga masih hidup. Insiden ini menjadi yang pertama sejak konflik antara kedua negara pecah hampir lima pekan lalu.
Menurut laporan kantor berita Reuters, Jumat (3/4/2026), dua pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi insiden tersebut, meski Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan pernyataan resmi.
Kemungkinan pilot masih hidup dan berada di wilayah Iran meningkatkan risiko strategis bagi Washington, terutama di tengah rendahnya dukungan publik terhadap konflik ini di dalam negeri Amerika Serikat.
Militer AS kini menghadapi dua tantangan besar sekaligus: menyelamatkan awak pesawat yang selamat dan memastikan keselamatan tim penyelamat dalam operasi berisiko tinggi di wilayah musuh.
Pemerintah Iran bahkan menyerukan kepada warga sipil untuk waspada terhadap kemungkinan adanya pilot yang selamat. Media lokal melaporkan bahwa otoritas setempat menawarkan “penghargaan khusus” bagi siapa pun yang dapat menangkap atau membunuh kru pesawat tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bahwa jet tempur siluman F-35 berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara terbaru mereka di wilayah tengah Iran.
“Pesawat tersebut benar-benar hancur setelah terkena sistem pertahanan udara kami,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran.
Namun, analisis dari media pertahanan independen The Aviationist menyebutkan bahwa puing-puing yang beredar justru mengindikasikan pesawat tersebut adalah F-15E Strike Eagle, bukan F-35 Lightning II.