MAHATVA.ID – Jepang dilaporkan telah mengerahkan rudal jarak jauh di wilayah barat daya yang dekat dengan China, di tengah memburuknya hubungan antara Tokyo dan Beijing dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Jepang memperkuat kapasitas militernya seiring meningkatnya aktivitas angkatan laut China di kawasan Laut China Timur.
Rudal tersebut dipasang di wilayah Kumamoto, Kyushu bagian selatan. Sistem rudal berpemandu permukaan-ke-kapal itu memiliki jangkauan hingga sekitar 1.000 kilometer, yang memungkinkan sebagian wilayah daratan China, termasuk Shanghai, berada dalam jangkauan.
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional.
“Kemampuan pertahanan jarak jauh memungkinkan kita untuk melawan ancaman pasukan musuh... sambil memastikan keselamatan personel kita,” ujarnya.
Menurut Koizumi, pengerahan rudal ini merupakan inisiatif penting untuk memperkuat kemampuan pencegahan dan respons Jepang terhadap potensi ancaman di kawasan.
Selain di Kumamoto, Jepang juga mengerahkan proyektil luncur berkecepatan tinggi di Shizuoka, wilayah pesisir yang menghadap Samudra Pasifik dan lebih dekat ke Tokyo.
Selama beberapa dekade, Jepang dikenal menganut kebijakan militer defensif yang ketat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut mulai meningkatkan kapasitas pertahanannya.
Hal ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas militer negara-negara di kawasan, termasuk China, Rusia, dan Korea Utara.
Pada 2022, Jepang bahkan telah menyetujui rencana pengembangan kemampuan serangan balik guna mengurangi ketergantungan terhadap sistem pertahanan rudal balistik.
Hubungan Jepang dan China kian memanas, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
China sendiri mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.
Meski bertujuan meningkatkan pertahanan, langkah Jepang ini menuai kritik dari sejumlah pihak. Para penentang menilai pengerahan rudal justru dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai target serangan.
Media lokal melaporkan bahwa pengiriman peluncur rudal ke Kumamoto dilakukan tanpa pemberitahuan kepada warga setempat, yang memicu aksi protes di sekitar pangkalan militer.