• Rabu, 21 Oktober 2026

Trump Sebut Negosiasi dengan Iran “Sangat Baik”, Teheran Langsung Membantah

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 24 Maret 2026 | 20:09 WIB
Trump Sebut Negosiasi dengan Iran “Sangat Baik”, Teheran Langsung Membantah
Trump Sebut Negosiasi dengan Iran “Sangat Baik”, Teheran Langsung Membantah


MAHATVA.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa negaranya telah menggelar pembicaraan “sangat baik” dengan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tiga minggu.

Dalam unggahan di media sosial pada Senin waktu setempat, Trump menyebut Washington dan Teheran telah melakukan “percakapan produktif” selama dua hari terakhir guna mencapai “resolusi lengkap dan total” atas permusuhan yang terjadi.

Trump juga mengungkapkan telah memerintahkan Pentagon untuk menunda sementara serangan militer terhadap fasilitas energi Iran.

“Saya telah menginstruksikan untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan syarat keberhasilan pertemuan yang sedang berlangsung,” tulis Trump, dikutip AFP, Selasa (24/3/2026).

Ia menambahkan bahwa komunikasi antara kedua pihak akan terus berlanjut sepanjang pekan ini.

Meski demikian, pihak Iran langsung membantah adanya pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat. Pemerintah Teheran menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung selama konflik.

Selain itu, Iran juga menilai pernyataan Trump sebagai upaya untuk memengaruhi pasar energi global, terutama di tengah lonjakan harga minyak akibat perang.

Konflik di kawasan semakin memanas setelah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak mentah global.

Sebagai balasan atas serangan gabungan AS dan Israel, Iran juga dilaporkan menargetkan fasilitas energi serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk dan target di Israel.

Situasi ini memicu kekhawatiran global. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang lebih parah dibandingkan gabungan krisis minyak 1970-an dan dampak perang Rusia-Ukraina.

Sebelumnya, harga minyak dunia sempat melonjak di atas USD 100 per barel akibat konflik yang memanas. Namun, setelah pernyataan Trump terkait potensi negosiasi, harga minyak langsung turun tajam.

Minyak mentah Brent tercatat anjlok lebih dari 14% menjadi sekitar USD 96 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga turun lebih dari 14% ke level USD 84,37 per barel.

Penurunan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X