• Rabu, 21 Oktober 2026

Angin Segar dari Selat Hormuz, Bahlil Sebut Kapal RI Masih Negosiasi

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Kamis, 19 Maret 2026 | 07:31 WIB
Angin Segar dari Selat Hormuz, Bahlil Sebut Kapal RI Masih Negosiasi
Angin Segar dari Selat Hormuz, Bahlil Sebut Kapal RI Masih Negosiasi

Jakarta, MAHATVA.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan adanya perkembangan positif terkait situasi di Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik geopolitik kawasan Timur Tengah.

Menurut Bahlil, Iran kini menerapkan kebijakan buka-tutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan pengecualian terhadap kapal yang berasal dari Israel dan Amerika Serikat.

“Kita sedikit mendapat angin segar. Selat Hormuz sudah mulai ada kebijakan buka-tutup. Artinya, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika, sudah bisa terjadi komunikasi. Ini perkembangan positif,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/3/2026).

Bahlil mengungkapkan, saat ini kapal pengangkut minyak milik Indonesia yang sempat tertahan di kawasan tersebut masih dalam proses negosiasi untuk dapat melanjutkan perjalanan.

“Masih negosiasi. Antriannya panjang, jadi mohon waktu,” jelasnya.

Situasi ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Bahlil menilai kondisi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, masih menjadi faktor risiko utama terhadap distribusi energi dunia.

“Kondisi geopolitik sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik itu selesai,” tegasnya.

Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman. Ketersediaan BBM, LPG, dan listrik masih berada dalam batas aman sesuai standar stok nasional.

Bahlil menyebutkan, pasokan LPG tambahan akan masuk pada akhir bulan ini. Sementara itu, cadangan batu bara untuk pembangkit listrik milik PLN berada pada kisaran 14 hingga 15 hari operasional.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga tengah mengkaji sejumlah kebijakan penghematan energi, termasuk kemungkinan penerapan work from home (WFH).

“Semua kemungkinan bisa terjadi. Yang penting adalah penghematan BBM, sekaligus mengurangi impor dan beban pengeluaran masyarakat,” pungkas Bahlil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X