• Rabu, 21 Oktober 2026

Akademisi Uhamka Nilai Pernyataan Donald Trump Soal Iran Hanya Retorika Politik

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Senin, 9 Maret 2026 | 07:53 WIB
Akademisi Uhamka Nilai Pernyataan Donald Trump Soal Iran Hanya Retorika Politik
Akademisi Uhamka Nilai Pernyataan Donald Trump Soal Iran Hanya Retorika Politik

MAHATVA.ID – Pernyataan, Donald Trump, di platform Truth Social yang menyebut Iran sebagai “The Loser of the Middle East” dinilai tidak mencerminkan kondisi geopolitik yang sebenarnya di kawasan Timur Tengah.

Akademisi Associate Professor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Emaridial Ulza, menilai pernyataan tersebut lebih merupakan retorika politik dibandingkan gambaran nyata situasi konflik yang sedang berlangsung.

“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis,” ujar Emaridial Ulza Dikutip Rmol.id (9/3/2026).

Sebelumnya, Trump dalam unggahannya menyatakan bahwa Iran telah “meminta maaf dan menyerah” kepada negara-negara tetangganya setelah serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, ia menyebut Iran bukan lagi pengganggu Timur Tengah, melainkan “pecundang Timur Tengah”.

Klaim Kemenangan Dinilai Tidak Mencerminkan Situasi Lapangan

Menurut Emaridial Ulza, pernyataan tersebut justru mengandung kontradiksi yang menunjukkan bahwa situasi di lapangan kemungkinan jauh lebih kompleks dari yang disampaikan dalam narasi publik.

Ia menilai klaim kemenangan sepihak sering kali digunakan sebagai strategi komunikasi politik dalam konflik internasional, terutama untuk membangun opini publik.

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri itu menambahkan bahwa pola komunikasi seperti ini bukan hal baru dalam strategi diplomasi maupun konflik global.

“Pola ini sudah berulang kali terlihat dari negosiasi dagang dengan Tiongkok, krisis Korea Utara, hingga konflik-konflik sebelumnya di kawasan yang sama. Klaim bahwa Iran telah menyerah hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik membangun narasi triumfalis yang ia butuhkan untuk rakyatnya dan juga dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan,” jelasnya.

Retorika Bisa Memperpanjang Konflik

Emaridial Ulza juga mengingatkan bahwa deklarasi kemenangan di media sosial tidak serta-merta menandakan berakhirnya konflik. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam itu justru berpotensi memperpanjang eskalasi konflik.

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bahwa sejumlah negara sekutu Amerika Serikat seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman tidak menunjukkan keterlibatan langsung dalam konflik tersebut. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan adanya kebutuhan untuk membuka ruang negosiasi.

Indonesia Berpotensi Jadi Penengah

Lebih lanjut, Emaridial Ulza menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memerlukan pihak penengah yang dapat menjembatani dialog damai.

Ia menyebut Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran diplomatik melalui forum internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengingat posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Selain itu, Indonesia juga dinilai memiliki posisi strategis dalam dinamika geopolitik global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X