nasional

Mengungkap Sejarah Gedung Merdeka, dari Era Kolonial hingga Diplomasi Dunia

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:21 WIB
Gong perdamaian di ruang utama gedung Konferensi Asia Afrika atau Gedung Merdeka di Bandung, Jawa Barat: Chaerudin/Mahatva.id

Baca Juga: Bupati Rudy Susmanto Apresiasi Peternak di Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026

Dalam pameran tersebut, Christoforus H. Katon B. menjelaskan perkembangan kelompok pemilik perkebunan melalui peta Hoogvlakte van Bandoeng atau Dataran Tinggi Bandung.

Menurut penjelasannya, perkembangan perkebunan dan kebutuhan mobilitas hasil produksi turut memengaruhi pembangunan infrastruktur serta pertumbuhan kawasan perkotaan Bandung.

Jalan Raya Pos dan Lahirnya Societeit Concordia

Perubahan penting dalam perkembangan Bandung terjadi ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels mengarahkan pembangunan de Groote Postweg atau Jalan Raya Pos melalui wilayah Bandung.

Jalur yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan tersebut mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi dan sosial di sepanjang rutenya. Di Bandung, perkembangan kawasan sekitar jalan turut diikuti pembangunan hotel, pusat perdagangan, dan tempat berkumpul masyarakat Eropa.

Pada 29 Juni 1879, kelompok Preanger Planters mendirikan Societeit Concordia, sebuah perkumpulan sosial masyarakat Eropa kelas atas yang diinisiasi oleh Frederick Shenk, pemilik perkebunan di wilayah Jampang Selatan, Kabupaten Cianjur.

Pada awalnya, perkumpulan tersebut menggunakan gedung yang berada di seberang lokasi Gedung Merdeka saat ini, di kawasan De Vries. Seiring bertambahnya anggota dan aktivitas, pada 1895 Societeit Concordia menempati bangunan yang kini menjadi bagian dari kompleks Gedung Merdeka.

Perkembangan tersebut menandai perubahan fungsi kawasan yang kemudian menjadi salah satu bangunan penting dalam sejarah Kota Bandung.

Renovasi Bergaya Art Deco hingga International Style

Seiring meningkatnya aktivitas Societeit Concordia, bangunan tersebut mengalami sejumlah renovasi.

Pada 1921, arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker melakukan renovasi untuk pembangunan Schouwburg, yang kini dikenal sebagai Ruang Utama Gedung Merdeka. Renovasi ini menghadirkan gaya arsitektur Art Deco.

Selanjutnya, pada 1940, Albert Frederik Aalbers melakukan renovasi pada sayap kiri gedung dengan pendekatan curva linear international style dan langgam nieuwe bouwen.

Selain menjadi tempat berkumpul dan menggelar pesta bagi masyarakat Eropa, gedung ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan seni, pameran, dan pertunjukan yang dikelola kelompok seni de Bandoengsche Kunskring.

Salah satu tokoh yang disebut pernah mengadakan seminar di gedung tersebut adalah Rabindranath Tagore, sastrawan penerima Nobel Sastra.

Riwayat ini memperlihatkan bahwa sebelum menjadi lokasi konferensi internasional, bangunan tersebut telah memiliki perjalanan panjang sebagai ruang pertemuan sosial dan kebudayaan.

Pernah Menjadi Tempat Kongres Sarekat Islam

Sejarah Gedung Merdeka juga berkaitan dengan perkembangan gerakan nasional Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini