berita

Pengelola Jalur Alternatif Kedep Salurkan Santunan kepada 320 Warga, Tegaskan Tak Ada Pungli

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:14 WIB
Pengelola Jalur Alternatif Kedep Salurkan Santunan kepada 320 Warga, Tegaskan Tak Ada Pungli

BOGOR, MAHATVA.ID – Di tengah proses perbaikan Jalan Utama Kedep yang mengharuskan masyarakat menggunakan jalur alternatif, kepedulian sosial tumbuh dari para pengelola dan relawan Jembatan Alternatif Kedep. Dana sukarela yang diberikan pengguna jalan berhasil disalurkan kepada 320 penerima manfaat yang terdiri dari anak yatim piatu, ibu lanjut usia (lansia), dan orang tua di wilayah Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di Jembatan Alternatif Kedep, tepatnya di RT 01 dan RT 02/RW 01, Dusun 1, Desa Nambo, berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Setiap penerima memperoleh santunan berupa uang tunai sebesar Rp50.000.

Selain itu, panitia juga menyerahkan bantuan sosial masing-masing sebesar Rp1 juta untuk kegiatan Maulid di masjid-masjid Kampung Kedep, Rp1 juta untuk mendukung peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, serta Rp1 juta untuk para asatidz.

Kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh Acep Kusnadi selaku Koordinator Jalur Alternatif sekaligus Koordinator Santunan. Turut hadir Sekretaris Desa Nambo, Babinsa Desa Nambo Iwan Setiawan, Ketua LPM Desa Tlajungudik Nurdin, tokoh masyarakat, serta para sesepuh dari Desa Nambo dan Desa Tlajungudik.

Acep Kusnadi menegaskan, seluruh dana santunan berasal dari pemberian sukarela para pengguna kendaraan yang melintasi jalur alternatif selama Jalan Utama Kedep masih dalam proses perbaikan.

"Kami bekerja secara sukarela. Tidak ada pungutan paksa dan tidak ada nominal yang kami tentukan kepada pengendara. Semua pemberian dilakukan secara ikhlas, kemudian kami salurkan kembali untuk kepentingan masyarakat, terutama anak yatim piatu, lansia, dan orang tua," ujar Acep.

Ia juga meluruskan informasi yang sempat beredar terkait dugaan adanya pungutan liar (pungli) di jalur alternatif tersebut.

"Kalau ada informasi yang menyebut kami meminta secara paksa, melakukan pungli, atau menentukan nominal, itu tidak benar. Kami hanya membantu mengatur lalu lintas agar kendaraan dapat melintas dengan aman, tertib, dan lancar," tegasnya.

Menurut Acep, transparansi menjadi komitmen utama dalam pengelolaan dana sukarela. Seluruh dana yang terkumpul dimanfaatkan kembali untuk kegiatan sosial sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Selain berfungsi sebagai akses sementara selama perbaikan Jalan Utama Kedep, keberadaan jalur alternatif juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga. Sejumlah masyarakat yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan dilibatkan sebagai relawan pengatur lalu lintas secara bergiliran sehingga memperoleh tambahan penghasilan sekaligus ikut menjaga kelancaran arus kendaraan.

Pengoperasian jalur alternatif tersebut dilakukan melalui koordinasi bersama Pemerintah Desa Nambo, Pemerintah Desa Tlajungudik, serta aparat kepolisian guna memastikan keamanan dan kenyamanan para pengguna jalan.

Keselamatan masyarakat, lanjut Acep, tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, jalur alternatif akan ditutup sementara apabila hujan deras mengguyur kawasan tersebut demi menghindari risiko kecelakaan akibat kondisi jalan yang licin dan membahayakan.

"Apabila hujan turun dengan intensitas tinggi, jalur alternatif kami tutup sementara. Keselamatan pengguna jalan adalah prioritas utama. Kami tidak ingin terjadi hal-hal yang membahayakan masyarakat," katanya.

Melalui penyaluran santunan kepada 320 penerima manfaat, pengelola Jembatan Alternatif Kedep ingin menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh di tengah tantangan pembangunan infrastruktur. Apa yang bermula dari pengelolaan jalur alternatif kini berkembang menjadi gerakan gotong royong yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Nambo dan Desa Tlajungudik.

Halaman:

Terkini