berita

Petrus: Organisasi Besar Bisa Mati Suri Jika Tak Didukung Kepemimpinan Visioner dan SDM Kompeten

Rabu, 29 Juli 2026 | 04:49 WIB
Petrus: Organisasi Besar Bisa Mati Suri Jika Tak Didukung Kepemimpinan Visioner dan SDM Kompeten

JAKARTA, MAHATVA.ID – Mantan Kepala Bidang Humas Dewan Pimpinan Pusat Keluarga Besar Masyarakat Maluku Tenggara Raya, Petrus L, melontarkan kritik sekaligus peringatan terkait dinamika kelembagaan organisasi. Menurutnya, organisasi sebesar apa pun tidak memiliki jaminan untuk terus bertahan apabila hanya mengandalkan nama besar tanpa didukung kepemimpinan yang visioner serta sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

Petrus, yang juga merupakan salah satu Dewan Pendiri KBMTR, menegaskan bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak terletak pada sejarah panjang maupun popularitasnya, melainkan pada tata kelola yang profesional dan kemampuan pemimpin dalam menghimpun potensi intelektual seluruh anggotanya.

Dalam keterangannya, Petrus menyoroti peran strategis Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sebagai pusat penggerak organisasi. Menurutnya, DPP bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi juga bertanggung jawab menentukan arah kebijakan dan strategi organisasi.

"DPP adalah lokomotif. Jika lokomotifnya tidak memiliki arah yang jelas atau tidak mampu membangun komunikasi yang solid, maka seluruh struktur di bawahnya akan kehilangan kompas. Pemimpin di tingkat pusat dituntut memiliki kapasitas untuk mengonsolidasikan seluruh potensi, bukan sekadar duduk di kursi jabatan," tegas Petrus.

Petrus juga mengingatkan adanya gejala yang dapat menyebabkan sebuah organisasi mengalami kondisi "mati suri". Menurutnya, tanda-tanda tersebut terlihat dari program kerja yang stagnan, lemahnya koordinasi, hingga terputusnya komunikasi antar-pengurus.

"Kita tidak boleh membiarkan organisasi terjebak dalam kondisi 'mati suri'. Aktivitas yang meredup dan vakumnya inovasi akan secara perlahan menggerus kepercayaan anggota. Jika ini dibiarkan berlarut-larut, kehancuran organisasi hanyalah masalah waktu," ujarnya.

Lebih lanjut, Petrus menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sikap terbuka terhadap kritik dan memberikan ruang bagi lahirnya berbagai gagasan baru.

Menurutnya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menjadikan perbedaan pendapat sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan dan pembaruan.

"Jangan menutup ruang bagi inovasi. Pemimpin harus mampu mengakomodasi kekuatan intelektual seluruh kader. Organisasi yang alergi terhadap kritik dan inovasi tidak akan pernah mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah," katanya.

Sebagai praktisi komunikasi massa, Petrus mendorong agar organisasi melakukan transformasi sistem kerja yang lebih modern dan tidak bergantung pada satu atau dua figur.

Ia menilai administrasi harus ditata secara profesional, pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan, serta evaluasi program dilaksanakan secara berkala.

Selain itu, Petrus menekankan pentingnya menerapkan sistem meritokrasi dalam penempatan kader pada posisi strategis.

"Organisasi yang hebat menghargai kapasitas. Kita butuh orang-orang yang memiliki integritas dan wawasan manajerial untuk mengisi pos-pos strategis. Penempatan seseorang harus berdasarkan tanggung jawab dan keahliannya," jelasnya.

Menutup pernyataannya, Petrus mengajak seluruh elemen organisasi menjadikan kritik sebagai momentum untuk memperkuat fondasi kelembagaan agar semakin adaptif, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Halaman:

Terkini