berita

Konflik AS-Iran Memanas, Trump Ingin Pungut Tarif 20 Persen di Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 15:15 WIB
Konflik AS-Iran Memanas, Trump Ingin Pungut Tarif 20 Persen di Selat Hormuz

Komando militer Iran juga menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan menentukan pengelolaan Selat Hormuz maupun mengatur lalu lintas pelayaran internasional di kawasan tersebut.

Dua Kapal Tanker Diserang

Ketegangan juga berdampak langsung terhadap jalur pelayaran internasional.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan dua kapal tanker minyak diserang ketika melintasi jalur selatan Selat Hormuz di perairan Oman.

Serangan tersebut menyebabkan satu awak kapal meninggal dunia dan delapan lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di kawasan yang sama.

PBB Kritik Rencana Trump

Rencana Amerika Serikat memungut tarif atas kapal yang melintasi Selat Hormuz menuai kritik dari badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

PBB menegaskan tidak terdapat dasar hukum internasional yang memberikan kewenangan kepada suatu negara untuk mengenakan pungutan wajib terhadap kapal yang melintasi selat internasional.

Meski demikian, Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut Amerika Serikat menyatakan blokade terhadap pelayaran Iran mulai diberlakukan pada Selasa pukul 20.00 GMT.

Blokade tersebut mencakup seluruh pelabuhan dan terminal minyak Iran, kecuali pelayaran netral serta bantuan kemanusiaan yang telah melalui proses pemeriksaan.

Selat Hormuz Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia atau lebih dari 15 juta barel minyak per hari melewati kawasan tersebut.

Nilai perdagangan energi yang melintas diperkirakan mencapai sedikitnya US$1,2 miliar per hari atau sekitar Rp21,72 triliun.

Apabila pungutan 20 persen benar-benar diterapkan, Amerika Serikat diperkirakan berpotensi memperoleh pendapatan sekitar US$250 juta atau setara Rp4,53 triliun setiap hari.

Di sisi lain, meningkatnya konflik menyebabkan harga minyak dunia melonjak lebih dari 9 persen dalam sehari. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga dilaporkan turun sekitar 52 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global sekaligus meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Halaman:

Terkini