berita

Cucun Ahmad Syamsurijal Dorong Transformasi Pendidikan Pesantren Berbasis AI dan Standar Internasional

Senin, 8 Juni 2026 | 13:41 WIB
Cucun Ahmad Syamsurijal Dorong Transformasi Pendidikan Pesantren Berbasis AI dan Standar Internasional

TASIKMALAYA, MAHATVA.ID – Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mendorong transformasi besar dalam dunia pendidikan pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus melahirkan santri yang kompetitif di tingkat global.

Hal tersebut disampaikan Cucun saat menjadi narasumber dalam talkshow panel bersama Keluarga Alumni Pesantren Cipasung (KAC) di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).

Dalam forum tersebut, Cucun menyoroti dua agenda strategis yang dinilai sangat penting bagi masa depan pesantren, yakni pengawalan implementasi regulasi turunan dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren serta percepatan peningkatan kapasitas santri dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurut Cucun, kehadiran Undang-Undang Pesantren harus benar-benar memberikan manfaat nyata bagi seluruh pesantren di Indonesia melalui empat pilar utama, yaitu rekognisi (pengakuan), afirmasi (keberpihakan), fasilitasi pendanaan melalui Dana Abadi Pesantren, serta penguatan fungsi sosial dan dakwah.

"Setiap undang-undang harus memiliki implementasi yang nyata. Faktanya, belum semua alumni maupun pengelola pesantren memahami sepenuhnya ruang kehadiran negara melalui UU ini. Karena itu, kami meminta agar mekanisme aturan turunannya tidak dibuat rumit, terutama terkait rekognisi kelulusan dan akses anggaran. Kehadiran negara harus mempermudah, bukan membebani administrasi pesantren," tegas Cucun.

Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut menegaskan bahwa penyusunan berbagai regulasi turunan, baik dalam bentuk peraturan menteri maupun peraturan daerah, harus mampu memberikan kemudahan bagi pesantren, bukan justru menambah beban birokrasi.

Selain aspek regulasi, Cucun juga menekankan pentingnya transformasi pendidikan pesantren agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi global. Menurutnya, pesantren memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan standar pendidikan internasional tanpa meninggalkan identitas dan karakter keislaman yang menjadi ciri khasnya.

Ia menilai kurikulum internasional seperti Cambridge Curriculum maupun International Baccalaureate (IB) dapat diadopsi dan dikembangkan sesuai kebutuhan serta karakteristik pendidikan pesantren di Indonesia.

"Pesantren bisa mengadopsi Cambridge maupun IB dengan pendekatan khas pesantren. Transformasi ini sangat penting. Semua pesantren harus adaptif terhadap percepatan teknologi. Bahkan dalam perkembangan AI saat ini, dibutuhkan kontribusi dari insan pesantren yang memiliki pemahaman agama yang kuat untuk menghadirkan perspektif etika dan nilai-nilai moral," ujarnya.

Momentum dialog tersebut sekaligus menjadi penanda babak baru kepemimpinan organisasi alumni pesantren. Dalam acara yang berlangsung di Dome Pesantren Cipasung dan dihadiri ribuan alumni lintas generasi, Cucun Ahmad Syamsurijal resmi dilantik sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan Pusat Keluarga Alumni Cipasung (MPP KAC) periode 2026–2031.

Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, KH Ubaedillah, bertepatan dengan pelaksanaan Haul Akbar Pesantren Cipasung.

Pada kesempatan yang sama, turut dikukuhkan jajaran Majelis Pakar MPP KAC yang dibentuk sebagai wadah pemikiran strategis organisasi. Majelis tersebut diharapkan menjadi pusat kontribusi akademik, pengembangan gagasan, serta penyusunan rekomendasi berbasis kajian dan data dari para alumni lintas disiplin ilmu.

Acara pelantikan dan pengukuhan tersebut dihadiri para masyayikh serta keluarga besar Pesantren Cipasung, di antaranya KH Acep Adang Ruhiyat, Acep Zamzam Noor, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia KH Abdul Chobir, jajaran pengurus KAC, serta ribuan alumni Pondok Pesantren Cipasung dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan penguatan regulasi, adaptasi teknologi, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia, pesantren diharapkan mampu menjadi pusat pendidikan Islam yang modern, inklusif, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.

Halaman:

Terkini