berita

Menghirup Ketakutan di Tanimbar: Ketika Hukum Berubah Menjadi Senjata Membungkam Kritik

Sabtu, 6 Juni 2026 | 06:49 WIB
Menghirup Ketakutan di Tanimbar: Ketika Hukum Berubah Menjadi Senjata Membungkam Kritik

Ketika satu aktivis diperiksa karena kritiknya, puluhan orang lain memilih diam. Ketika seorang wartawan menghadapi ancaman hukum akibat pemberitaannya, banyak jurnalis mulai melakukan sensor terhadap diri sendiri. Ketika seorang akademisi diserang karena pendapatnya, ruang diskusi publik menjadi semakin sempit.

Lambat laun masyarakat belajar untuk tidak berbicara.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik pemerintahan yang buruk tumbuh subur di tempat-tempat yang minim pengawasan publik.

Pers yang bebas, akademisi yang independen, aktivis yang kritis, dan masyarakat yang berani bersuara merupakan elemen penting dalam menjaga kesehatan demokrasi.

Mengembalikan Hukum pada Tujuan Mulianya

Hukum sejatinya hadir untuk melindungi hak warga negara, bukan menjadi alat untuk menciptakan ketakutan.

Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa instrumen hukum digunakan sesuai prinsip keadilan, proporsionalitas, dan penghormatan terhadap kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi.

Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang berhasil menghilangkan kritik. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu menjawab kritik dengan kinerja, transparansi, dan pelayanan yang lebih baik.

Demokrasi membutuhkan ruang publik yang hidup, terbuka, dan berani menyuarakan kebenaran. Sebab ketika warga mulai takut berbicara, yang dipertaruhkan bukan hanya kebebasan individu, tetapi masa depan demokrasi itu sendiri.

Pada akhirnya, menjaga kebebasan berpendapat bukan semata membela hak aktivis, wartawan, atau akademisi. Itu adalah upaya menjaga hak setiap warga negara untuk ikut menentukan arah masa depan daerah dan bangsanya.

Halaman:

Terkini