berita

HJB ke-544 Digelar di Desa Malasari, Rudy Susmanto Fokus Percepat Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan di Pelosok Bogor

Kamis, 4 Juni 2026 | 05:30 WIB
HJB ke-544 Digelar di Desa Malasari, Rudy Susmanto Fokus Percepat Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan di Pelosok Bogor



BOGOR, MAHATVA.ID – Peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun 2026 menghadirkan nuansa berbeda. Untuk pertama kalinya, rangkaian perayaan tidak dipusatkan di kawasan Pemerintah Kabupaten Bogor, melainkan digelar di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa pemilihan Desa Malasari sebagai lokasi perayaan HJB bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pelosok.

Menurut Rudy, masih terdapat sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor yang membutuhkan perhatian khusus, terutama terkait infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan.

“Ketika kita ingin melihat Kabupaten Bogor berubah, kita membutuhkan kebersamaan dan persatuan. Desa Malasari ini hanya contoh kecil. Di beberapa wilayah Kabupaten Bogor masih banyak daerah dengan kondisi yang sama, bahkan ada yang lebih memprihatinkan,” ujar Rudy Susmanto.

Ia menegaskan pemerintah daerah harus hadir secara nyata untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Jalan Sudah Dibangun, Pendidikan Menjadi Prioritas Berikutnya

Rudy menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor telah membangun akses jalan hampir 20 kilometer di Desa Malasari pada tahun sebelumnya. Pembangunan tersebut bertujuan membuka konektivitas wilayah dan meningkatkan mobilitas masyarakat.

Namun demikian, pembangunan fisik dinilai belum cukup apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Saat ini, keterbatasan fasilitas pendidikan masih menjadi tantangan utama di Desa Malasari. Kondisi tersebut menyebabkan siswa SMP dan SMA harus berbagi ruang kelas sehingga kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bergantian.

“Ada siswa SMP yang hanya masuk sekolah dua kali dalam seminggu karena harus berbagi ruang kelas dengan siswa SMA. Kondisi ini tentu tidak ideal dan harus segera ditangani,” katanya.

Persoalan pembangunan sekolah selama ini terkendala status lahan yang sebagian berada di kawasan taman nasional dan sebagian lainnya merupakan milik pihak swasta.

Namun dalam momentum Hari Jadi Bogor ke-544, pemerintah daerah memperoleh kabar positif setelah pihak swasta menyatakan kesediaannya untuk menghibahkan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan sekolah baru.

Halaman:

Terkini