berita

Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Tegaskan Intervensi Jaga Stabilitas

Rabu, 6 Mei 2026 | 00:33 WIB
Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Tegaskan Intervensi Jaga Stabilitas

Jakarta, MAHATVA.ID – Bank Indonesia akhirnya buka suara setelah nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS, salah satu level terlemah di tengah tekanan global yang meningkat.

Bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terjadi secara terisolasi. Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang negara berkembang akibat eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme berjalan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).

Ia mengungkapkan, sejak meningkatnya konflik global, tekanan terhadap mata uang emerging market terjadi secara merata. Sejumlah mata uang tercatat mengalami pelemahan signifikan, seperti peso Filipina sebesar 6,58 persen, baht Thailand 5,04 persen, rupee India 4,32 persen, dan peso Chile 4,24 persen.

Sementara itu, rupiah melemah 3,65 persen—relatif lebih terkendali dibandingkan beberapa negara lain. Adapun won Korea Selatan tercatat melemah 2,29 persen.

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah kembali berada di level Rp17.410 per dolar AS, turun 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah masih didominasi sentimen eksternal, terutama ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang terus memanas.

Untuk meredam gejolak pasar, BI mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi, antara lain:

  • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore
  • Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder

Langkah tersebut dilakukan secara konsisten guna menjaga keseimbangan pasar serta memperkuat stabilitas nilai tukar.

“Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara terukur,” tegas Erwin.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Sejumlah analis menilai penguatan dolar AS menjadi faktor utama, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pelemahan rupiah masih berpotensi terjadi, meskipun terbatas karena pelaku pasar tengah menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I Indonesia.

Sementara itu, analis Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS turut menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Halaman:

Terkini