Jakarta, MAHATVA.ID – Di tengah gejolak energi global yang kian tidak disebutkan, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa setiap tetes minyak dari dalam negeri memiliki nilai strategis yang semakin tinggi bagi Indonesia.
Menurut Djoko, pasokan minyak dan gas (migas) dari luar negeri kini semakin sulit diperoleh. Kalaupun tersedia, harganya melonjak signifikan dan berpotensi membebani keuangan negara. Dalam kondisi tersebut, produksi domestik menjadi tumpuan utama ketahanan energi nasional.
“Setetes minyak dari dalam negeri sangat berarti untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat,” katanya dalam kunjungan lapangan.
Sorotan utama dalam kunjungan tersebut mengingatkan pada Blok Rokan, salah satu kontributor terbesar produksi minyak nasional yang dikelola oleh Pertamina Hulu Rokan.
Di kawasan ini, operasional produksi sangat bergantung pada pasokan listrik yang menopang ribuan pompa air untuk mengangkat minyak dari perut bumi. Sistem kelistrikan bahkan diibaratkan sebagai “jantung” bagi keberlangsungan produksi.
Namun, sejak akhir Desember 2025, pembangkit listrik di wilayah tersebut mengalami gangguan berulang. Hingga April 2026, proses perbaikan belum sepenuhnya rampung.
Kondisi ini berdampak langsung pada laju produksi minyak nasional, yang mengalami hambatan akibat terganggunya operasional di lapangan.
Menghadapi situasi tersebut, Djoko Siswanto memilih turun langsung untuk memastikan kemajuan perbaikan berjalan optimal. Selain itu, kehadirannya juga menjadi bentuk dukungan moral bagi para pekerja di lapangan.
Di tengah tekanan target produksi dan kondisi operasional yang menantang, kehadiran pimpinan sektor hulu migas dinilai mampu meningkatkan semangat kerja tim.
“Setetes minyak dan sedetik waktu sangat berarti bagi negara, bangsa, dan masyarakat,” tegas Djoko.
Pernyataan tersebut mencerminkan urgensi yang menduduki industri migas nasional saat ini. Efisiensi waktu serta optimalisasi produksi bukan lagi sekedar target, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Dalam konteks global yang penuh energi, penguatan produksi dalam negeri menjadi strategi utama Indonesia untuk menjaga kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor migas.