berita

Di Balik Angkot Otemer-Saumlaki: Dugaan Kendaraan Tak Layak, Pembatasan Penumpang, hingga Risiko Konflik Sosial

Jumat, 17 April 2026 | 23:40 WIB
Di Balik Angkot Otemer-Saumlaki: Dugaan Kendaraan Tak Layak, Pembatasan Penumpang, hingga Risiko Konflik Sosial

MAHATVA.ID -Persoalan angkutan kota (angkot) di jalur Otemer-Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tidak sekadar soal layanan transportasi.

Di balik keluhan warga tentang kendaraan yang diduga tak layak, muncul dugaan praktik pembatasan penumpang di titik transit Desa Otemer-situasi yang dinilai berpotensi memicu gesekan sosial jika tidak segera ditangani, Jumat (17/4)

Laporan ini dihimpun dari sejumlah keterangan warga, penumpang, dan sumber lokal yang meminta identitasnya dirahasiakan.


Sejumlah penumpang menilai kondisi angkot yang beroperasi di jalur tersebut tidak memenuhi standar keselamatan. Keluhan mencakup kondisi fisik kendaraan hingga kenyamanan selama perjalanan jarak menengah.

"Kalau lihat kondisinya, kami ragu soal keselamatan. Tapi pilihan terbatas," ujar seorang penumpang.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait apakah kendaraan-kendaraan tersebut telah melalui uji kelayakan berkala dari otoritas berwenang.


Persoalan tidak berhenti pada aspek teknis. Di Desa Otemer, yang menjadi titik transit penting menuju Saumlaki, warga mengaku menghadapi pembatasan dalam memilih moda transportasi.

Beberapa sumber menyebut adanya dugaan pengondisian agar penumpang menggunakan angkot tertentu. Kendaraan pribadi atau mobil jemputan dari luar wilayah disebut kerap mengalami hambatan saat hendak mengambil penumpang.

"Untuk jemput keluarga saja tidak bisa. Harus ikut angkot dari sini," kata seorang warga.

Sumber lain menambahkan, praktik ini terjadi berulang kali dan membuat penumpang tidak memiliki alternatif.

"Kalau ada mobil jemputan, sering dihentikan. Penumpang diarahkan naik angkot setempat,” ujarnya.

Praktik semacam ini, jika benar terjadi, berpotensi melanggar prinsip kebebasan memilih layanan transportasi serta menimbulkan ketidakadilan antaroperator.

Halaman:

Terkini