Proyek PSEL Tangerang Selatan dinilai paling material bagi OASA, dengan kepemilikan sekitar 76%. Potensi laba yang dapat dikonsolidasikan diperkirakan mencapai Rp337 miliar per tahun, dengan estimasi payback period sekitar lima tahun. Untuk tender Danantara, OASA diperkirakan membidik proyek PSEL di Bogor dan Denpasar.
5. SOFA – Spekulatif, Tapi Berpotensi Jadi Dark Horse
PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) memang belum memiliki aset WTE yang beroperasi. Namun, melalui anak usaha PT Parivarta Energi Nusantara, SOFA telah membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. yang secara khusus disiapkan untuk mengikuti tender Danantara.
Hingga kini, SOFA belum membukukan pendapatan dari segmen WTE. Dengan demikian, prospek saham ini sangat bergantung pada hasil tender. Jika menang, SOFA berpotensi memperoleh katalis pertumbuhan signifikan. Namun jika gagal, narasi WTE berisiko kembali menjadi sekadar wacana pasar.
Kesimpulan
Tender tahap pertama WTE Danantara bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi juga penentu arah bisnis baru bagi sejumlah emiten BEI. Bagi investor, hasil tender ini berpotensi menjadi katalis jangka pendek maupun panjang, tergantung pada posisi emiten di rantai nilai WTE serta struktur kepemilikan proyek yang diperoleh.