Artinya, umat Islam di Indonesia tidak mendahului takdir, melainkan mengikuti rotasi bumi dalam satu sistem 24 jam yang terintegrasi.
4. Konvergensi dengan Kalender Ummul Qura
Secara faktual, awal Ramadan 1447 H juga berpotensi bertepatan dengan kalender resmi Arab Saudi, yakni Mekah melalui sistem Kalender Ummul Qura.
Ummul Qura menggunakan kriteria lebih longgar (bulan terbenam setelah matahari). Pada 17 Februari petang waktu Mekah, bulan sudah berada di atas ufuk, sehingga Saudi pun berpotensi menetapkan tanggal yang sama.
Perbedaannya, KHGT konsisten pada kriteria Kongres Internasional Penyatuan Kalender 2016 (tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat), yang kemudian diadopsi secara resmi melalui Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah dan ditanfidz oleh PP Muhammadiyah.
5. Ijtihad Panjang Sejak 2007
KHGT bukan keputusan mendadak. Pengkajian serius telah dimulai sejak 2007 melalui simposium internasional “The Effort Towards Unifying the Islamic International Calendar” di Jakarta, pada masa kepemimpinan Din Syamsuddin di PP Muhammadiyah.
Setelah hampir dua dekade kajian dan musyawarah, sistem ini resmi diterapkan pada 2025. Ramadan 1447 H menjadi momentum pertama penerapan kalender global tersebut.
Kesimpulan
Penetapan 1 Ramadan 1447 H berbasis visibilitas hilal global, termasuk di Alaska, tidak melanggar syariat maupun logika astronomi. Ia merupakan hasil ijtihad panjang yang mengusung paradigma persatuan umat dalam satu sistem penanggalan global.
Peralihan ini menuntut perluasan cara pandang: dari validasi lokal menuju kesadaran sebagai One Global Community.
Dengan pemahaman tersebut, Ramadan 1447 H dapat disambut dengan keyakinan dan ketenangan, sebagai bagian dari ikhtiar panjang menuju unifikasi kalender Islam dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab.