• Rabu, 21 Oktober 2026

Eddy Soeparno Wanti-wanti Lonjakan Harga Minyak Dunia Bisa Tekan APBN Akibat Konflik Timur Tengah

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Selasa, 10 Maret 2026 | 11:41 WIB
Eddy Soeparno Wanti-wanti Lonjakan Harga Minyak Dunia Bisa Tekan APBN Akibat Konflik Timur Tengah
Eddy Soeparno Wanti-wanti Lonjakan Harga Minyak Dunia Bisa Tekan APBN Akibat Konflik Timur Tengah

MAHATVA.ID – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Eddy Soeparno, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menurut Eddy, kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memperlebar defisit anggaran negara.

“Apalagi harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah USD 70, dan defisit terhadap PDB di angka 2,68 persen. Maka dengan kenaikan harga migas di atas USD 100 per barrel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6 persen,” kata Eddy dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan, harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 30 persen dalam sepekan terakhir menjadi sekitar 107 dolar AS per barel setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menurutnya, lonjakan harga energi merupakan fenomena yang lazim terjadi ketika konflik bersenjata terjadi di kawasan penghasil minyak dunia.

Eddy juga menyoroti potensi persaingan global dalam mendapatkan pasokan minyak mentah. Negara-negara pengimpor energi besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan diperkirakan akan mencari alternatif pasokan minyak di luar Timur Tengah.

Beberapa negara produsen yang berpotensi menjadi tujuan baru pasokan energi di antaranya Nigeria, Angola, dan Brasil, yang juga merupakan pemasok minyak bagi Indonesia.

“Artinya, kita berpeluang berebut supply minyak mentah dengan negara-negara raksasa pengimpor migas,” ujarnya.

Eddy menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia mengingat kebutuhan migas nasional mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Selain kenaikan harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi memperbesar beban impor energi nasional.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keamanan pasokan energi atau security of supply, terutama jika terjadi gangguan jalur distribusi global seperti penutupan Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.

“Defisit neraca migas global akibat penutupan Selat Hormuz akan membuat sejumlah negara pontang-panting mencari substitusinya. Banyak negara bersedia membeli produk migas dengan harga lebih tinggi dari pasaran,” jelasnya.

Meski demikian, Eddy meyakini pemerintah telah menyiapkan strategi diversifikasi sumber pasokan energi dari berbagai negara, termasuk dari Amerika Serikat, guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Yang betul-betul perlu kita perhatikan adalah sejauh mana ketahanan fiskal dari negara-negara pengimpor migas dalam memenuhi kebutuhan energi ketika harga semakin melambung dalam waktu cukup panjang,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X