• Rabu, 21 Oktober 2026

Pasokan Rumah Seken Naik 5 Persen per Bulan di Semester II 2025, Kabupaten Bogor dan Depok Tertinggi

Photo Author
Redaksi Mahatva, Mahatva.id
- Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:34 WIB
Pasokan Rumah Seken Naik 5 Persen per Bulan di Semester II 2025, Kabupaten Bogor dan Depok Tertinggi
Pasokan Rumah Seken Naik 5 Persen per Bulan di Semester II 2025, Kabupaten Bogor dan Depok Tertinggi

Bogor, MAHATVA.ID – Pasokan rumah seken atau rumah secondary market mengalami lonjakan signifikan sepanjang Semester II 2025. Tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), menjadi faktor utama yang mendorong pemilik properti melepas aset mereka.

Berdasarkan laporan Pinhome Indonesia bertajuk Indonesia Residential Market Report Semester 2025 & Outlook 2026, inventori rumah seken meningkat rata-rata 5 persen setiap bulan sepanjang paruh kedua 2025.

Wilayah penyangga DKI Jakarta menjadi kontributor terbesar. Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Tangerang Selatan masing-masing menyumbang 8 persen dari total penambahan pasokan rumah seken. Disusul Kota Bekasi (7 persen), Jakarta Selatan dan Jakarta Timur (masing-masing 6 persen), Kota Bandung dan Kabupaten Bekasi (5 persen), serta Kota Surabaya dan Kabupaten Tangerang (4 persen).

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi sepanjang 2025 menjadi pendorong utama meningkatnya penjualan rumah secondary.

“Tekanan ekonomi yang terjadi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK di berbagai sektor industri hingga kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti untuk melepas aset hunian mereka guna menjaga likuiditas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).

Banyak Listing “BU” dan Harga di Bawah Pasar

Lonjakan pasokan juga ditandai dengan meningkatnya listing berlabel “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat”, serta penawaran harga di bawah pasar. Fenomena ini menciptakan standar harga baru yang lebih kompetitif.

Akibatnya, pemilik rumah lain terpaksa melakukan penyesuaian harga agar tetap menarik bagi calon pembeli. Kondisi tersebut memicu penurunan rata-rata harga rumah secara bertahap di sejumlah kawasan padat hunian, termasuk Kabupaten Bogor yang menjadi salah satu pasar properti terbesar di Jabodetabek.

Pasokan Rumah Baru Turun 14 Persen

Berbanding terbalik dengan rumah seken, pasokan rumah primer justru turun hingga 14 persen sepanjang Semester II 2025.

Penurunan ini dipicu oleh kenaikan biaya konstruksi akibat dampak lanjutan perang dagang Amerika Serikat yang mendorong harga material impor seperti baja dan aluminium. Kondisi tersebut menekan margin keuntungan pengembang.

Selain itu, gejolak sosial-politik pada Agustus–September 2025 membuat sejumlah pengembang besar menahan peluncuran klaster baru. Pasar rumah baru di semester II 2025 pun didominasi oleh upaya menghabiskan inventori lama sambil menunggu momentum yang lebih kondusif di 2026.

Harga Rumah Baru Masih Stabil, Sinyal Kenaikan Mulai Terlihat

Menariknya, kenaikan harga material belum sepenuhnya tercermin pada harga jual rumah baru. Secara umum, harga per meter persegi masih relatif stabil.

Namun, beberapa daerah mulai menunjukkan kenaikan, seperti Jawa Tengah yang naik 6 persen dan Banten sebesar 3 persen. Tren ini menjadi sinyal bahwa daya tahan pengembang dalam menahan harga mulai mencapai batas, terutama di kawasan dengan permintaan tinggi.

Jika kondisi ekonomi membaik dan stabilitas politik terjaga, pasar properti diprediksi memasuki fase penyesuaian harga secara bertahap pada peluncuran proyek-proyek baru tahun 2026.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi Mahatva

Terkini

X