Jakarta,MAHATVA.ID -Program penyiapan 1.700 tenaga kerja lokal untuk proyek Blok Masela justru memantik gelombang protes. Putra daerah Tanimbar di Jakarta mempertanyakan keras keputusan menyerahkan proses rekrutmen kepada pihak luar melalui Badan Pengembangan Insani (BPI), Selasa (7/4/2026)
Keberatan itu mencuat karena proyek strategis nasional tersebut dinilai seharusnya menjadi ruang prioritas bagi keterlibatan penuh masyarakat lokal.
Namun, mekanisme rekrutmen yang dikendalikan lembaga eksternal dinilai berpotensi menjauhkan akses masyarakat Tanimbar dari peluang di tanahnya sendiri.
“Ini proyek di tanah kami, tapi kenapa rekrutmen dikendalikan dari luar?” tegas salah satu putra daerah Tanimbar di Jakarta. Ia menilai, keputusan tersebut membuka ruang ketimpangan sejak tahap awal.
Lebih jauh, mereka menyoroti aspek transparansi dan akuntabilitas BPI dalam menjalankan mandat besar tersebut. Ketiadaan penjelasan terbuka tentang dasar penunjukan lembaga itu memperkuat kecurigaan publik.
“Kalau tidak transparan, publik berhak curiga. Ini menyangkut masa depan 1.700 anak Tanimbar,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan yang meluas di kalangan diaspora Tanimbar.
Di sisi lain, BPI melalui Direktur Joe Noya menyatakan program ini dirancang komprehensif untuk menyiapkan SDM lokal agar siap terserap industri energi. Verifikasi minat dan pelatihan lintas sektor disebut sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan proyek, sebagaimana dilangsir dari tifatanimbar.com.