WASHINGTON, MAHATVA.ID -Eskalasi perang Iran mengguncang peta kekuatan dunia. Jurnalis konservatif Tucker Carlson menilai konflik ini menandai awal berakhirnya dominasi global Amerika Serikat sebagai “polisi dunia”.
Dilansir dari SindoNews, pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mendesak sekutu internasional turun tangan mengamankan Selat Hormuz, jalur vital yang menopang sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Carlson menilai seruan tersebut justru membuka kelemahan mendasar Washington.
"Negara yang mampu memaksakan ketertiban adalah negara yang berkuasa," ujarnya dalam podcast, menegaskan bahwa ketidakmampuan AS mengendalikan Hormuz menjadi sinyal penurunan pengaruh global.
Ia menyoroti sikap ragu sekutu dalam NATO yang enggan terlibat langsung pasca serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Kondisi ini, menurutnya, memperlihatkan retaknya solidaritas dan berkurangnya daya tekan Amerika di panggung internasional.
Carlson bahkan mengutip pernyataan Trump yang meminta pihak lain memimpin pembukaan jalur tersebut.
"Kita tidak bisa membuka Selat Hormuz… biarkan orang lain yang melakukannya. Itu artinya kita sudah selesai,” katanya, menggarisbawahi pergeseran peran strategis AS.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa kemenangan militer sekalipun tidak menjamin stabilitas. Menurutnya, kelompok bersenjata non-negara tetap dapat mengganggu jalur laut dengan ranjau atau drone murah, sehingga konflik pada akhirnya tetap membutuhkan jalur diplomasi dengan Iran.
"Apa yang terjadi di Iran adalah akhir dari kekaisaran Amerika seperti yang kita kenal," tegas Carlson.
Namun ia menambahkan, situasi ini bukan akhir dari negara itu, melainkan fase transisi menuju fokus baru di kawasan Belahan Barat.
Pandangan tersebut memicu respons keras dari Trump, yang menyebut Carlson "kehilangan arah" dan tak lagi sejalan dengan gerakan politiknya.
Ketegangan ini tidak hanya memperlihatkan konflik eksternal, tetapi juga friksi internal di tubuh politik AS. Di tengah ketidakpastian global, tekanan publik kini mengarah pada satu tuntutan utama: apakah Washington mampu mengendalikan krisis, atau justru menjadi saksi runtuhnya pengaruhnya sendiri di panggung dunia.