berita

Iran Bantah Klaim Donald Trump soal Negosiasi, Tuduh AS Manipulasi Pasar Energi

Selasa, 24 Maret 2026 | 20:03 WIB
Iran Bantah Klaim Donald Trump soal Negosiasi, Tuduh AS Manipulasi Pasar Energi


MAHATVA.ID – Pemerintah Iran membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut telah terjadi “percakapan produktif” antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa kedua negara telah melakukan komunikasi intensif selama dua hari terakhir guna mencapai “resolusi lengkap dan total” atas permusuhan yang berlangsung sekitar tiga minggu terakhir.

Bahkan, Trump mengklaim telah memerintahkan penundaan serangan militer terhadap fasilitas energi Iran sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pejabat tinggi Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara.

Ia juga menuding pernyataan Trump sebagai upaya manipulasi terhadap pasar energi global.

“Tidak ada negosiasi yang terjadi. Pernyataan tersebut hanya bertujuan memengaruhi pasar energi,” tegas Ghalibaf.

Senada, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicara Esmaeil Baqaei mengakui bahwa pihaknya memang menerima pesan dari Amerika Serikat melalui negara ketiga.

Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa diartikan sebagai negosiasi resmi.

“Selama beberapa hari terakhir, pesan diterima melalui beberapa negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi untuk mengakhiri perang,” ujarnya.

“Namun kami membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat selama 24 hari terakhir perang yang dipaksakan,” lanjutnya.

Sebelumnya, Trump juga sempat memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka jalur strategis Selat Hormuz, disertai ancaman pemboman terhadap fasilitas pembangkit listrik.

Pernyataan tersebut berdampak langsung pada pasar global, di mana harga minyak dilaporkan turun sementara pasar saham mengalami penguatan.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat ini terus menjadi sorotan dunia, terutama karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.

Terkini