berita

Iran Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS, Penasihat Khamenei: Diplomasi Bukan Lagi Pilihan

Rabu, 11 Maret 2026 | 09:21 WIB
Iran Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS, Penasihat Khamenei: Diplomasi Bukan Lagi Pilihan

MAHATVA.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa Teheran tidak lagi melihat diplomasi sebagai jalan keluar dari konflik dengan Amerika Serikat.

Penasihat kebijakan luar negeri di kantor pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi perang berkepanjangan dengan Donald Trump dan bahkan akan terus menekan negara-negara Teluk agar mendorong Washington mundur dari konflik.

Dalam wawancara dengan CNN pada Senin malam (9/3) waktu setempat, Kharazi menyatakan bahwa peluang diplomasi saat ini hampir tidak ada karena Amerika Serikat dinilai tidak menepati komitmennya dalam perundingan sebelumnya.

“Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi, karena Donald Trump telah menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya. Kami sudah mengalami hal itu dalam dua putaran perundingan. Saat kami sedang bernegosiasi, mereka justru menyerang kami,” ujar Kharazi.

Ia menilai konflik hanya bisa dihentikan jika tekanan ekonomi global semakin besar sehingga negara-negara lain ikut turun tangan untuk menghentikan agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Kharazi juga menyarankan negara-negara Arab di kawasan Teluk untuk ikut menekan Washington agar segera mengakhiri konflik yang berpotensi meluas.

Menurutnya, perang yang sedang berlangsung telah memicu tekanan ekonomi besar di berbagai negara, termasuk meningkatnya inflasi serta potensi kekurangan energi.

“Jika konflik ini terus berlanjut, tekanan ekonomi akan semakin meningkat sehingga pihak lain tidak punya pilihan selain turun tangan,” katanya.

Saat ditanya mengenai kondisi internal Iran, Kharazi menegaskan bahwa militer dan kepemimpinan negara tetap solid. Ia menyebut kepemimpinan Iran tetap menjalankan tanggung jawab dalam menjaga kekuatan pertahanan negara.

Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah dan menewaskan lebih dari 1.200 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Di tengah konflik yang semakin meluas, Iran juga mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Selat Hormuz diketahui menjadi jalur pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari serta menangani sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global yang sebagian besar menuju pasar Asia.

Penutupan jalur tersebut dikhawatirkan dapat memicu gejolak ekonomi global serta meningkatkan harga energi di pasar internasional jika konflik terus berlanjut.

Terkini