berita

Industri Hulu Migas Indonesia Diuji Gangguan Operasional dan Tekanan Geopolitik Global

Minggu, 8 Maret 2026 | 15:44 WIB
Industri Hulu Migas Indonesia Diuji Gangguan Operasional dan Tekanan Geopolitik Global

Jakarta, MAHATVA.ID – Industri hulu minyak dan gas (migas) Indonesia tengah menghadapi tantangan serius di tengah gangguan operasional di sejumlah wilayah kerja serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memicu ketidakpastian energi dunia.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut kondisi tersebut sebagai fase yang tidak mudah bagi industri energi nasional. Hal itu disampaikannya dalam acara buka puasa bersama Guspenmigas di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

“Kalau kita melihat kondisi industri hulu migas hari-hari ini, kita sedang berada dalam fase yang tidak mudah,” ujar Djoko.

Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir industri migas nasional harus menghadapi sejumlah insiden teknis yang berdampak pada produksi minyak.

Gangguan tersebut antara lain kebocoran pipa di wilayah kerja Cepu dan Bawean, pecahnya pipa gas milik Transportasi Gas Indonesia (TGI), hingga terganggunya pasokan listrik dari pembangkit North Duri Cogeneration (NDC) milik MCTN yang menyuplai energi untuk operasi migas di wilayah Rokan.

Rangkaian gangguan tersebut menyebabkan produksi minyak nasional mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Padahal, pada saat yang sama pemerintah tengah mendorong peningkatan lifting minyak dan gas guna menjaga ketahanan energi nasional.

“Ini bukan sekadar angka produksi atau target lifting. Ini menyangkut energi nasional, ekonomi, bahkan bisa berdampak pada rumah tangga,” kata Djoko.

Dampak Ketegangan Timur Tengah

Selain tantangan operasional di dalam negeri, tekanan terhadap industri energi Indonesia juga datang dari faktor eksternal. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memengaruhi harga minyak dunia dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Situasi tersebut membuat sektor energi menghadapi kondisi yang semakin kompleks. Industri migas nasional harus menjaga produksi dalam negeri di tengah volatilitas pasar energi global yang terus berubah.

Djoko menilai kondisi penuh tekanan ini justru menjadi ujian bagi ketangguhan para pelaku industri migas nasional.

Menurutnya, dalam kondisi normal berbagai sistem dapat terlihat berjalan baik. Namun ketika gangguan operasional terjadi dan target produksi terancam, karakter serta integritas organisasi akan benar-benar diuji.

“Ketika ada tekanan, gangguan operasional, penurunan produksi, di situlah karakter muncul. Apakah kita akan lari dari tekanan dan masalah, atau bangkit bersama mencari solusi,” tegasnya.

Halaman:

Terkini