berita

Susilo Bambang Yudhoyono: Indonesia Harus Siap Hadapi Perang Berbasis AI dan Supremasi Udara

Rabu, 4 Maret 2026 | 07:34 WIB
Susilo Bambang Yudhoyono: Indonesia Harus Siap Hadapi Perang Berbasis AI dan Supremasi Udara

Jakarta, MAHATVA.ID – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melontarkan peringatan keras terkait kesiapan sistem pertahanan nasional di tengah perubahan pola perang global yang kian ekstrem dan berbasis teknologi tinggi.

Dalam kuliah umum di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas), SBY menegaskan bahwa wajah peperangan modern telah berubah drastis. Pertempuran tidak lagi identik dengan tank dan pasukan infanteri di garis depan, melainkan telah merambah ke ruang siber, kecerdasan buatan (AI), sistem robotik, hingga strategi yang melampaui doktrin konvensional.

“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut,” tegas SBY.

SBY secara gamblang menyoroti paradigma lama yang terlalu menitikberatkan kekuatan darat. Menurutnya, dalam lanskap ancaman modern, supremasi udara (air power) kini menjadi faktor penentu kemenangan atau kekalahan dalam konflik berskala besar.

“Dulu seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting,” ujarnya.

Ia pun melempar pertanyaan strategis yang menggugah kesadaran nasional: bagaimana jika terjadi serangan udara yang langsung menghantam Jakarta? Atau menyasar pusat industri pertahanan di Bandung, Surabaya, hingga kota-kota strategis lainnya?

SBY menegaskan, skenario tersebut bukan untuk menebar ketakutan, melainkan membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional.

Menurut SBY, doktrin pertahanan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) yang selama ini menjadi fondasi sistem pertahanan Indonesia memang relevan pada zamannya. Konsep tersebut dirancang untuk menghadang musuh di perbatasan, menjaga garis pantai, mempertahankan pulau-pulau besar, hingga mengandalkan perang gerilya.

Namun, perkembangan teknologi militer kini memungkinkan serangan presisi tinggi dilakukan dalam hitungan menit dan langsung menargetkan pusat pemerintahan maupun objek vital nasional.

Karena itu, ia menekankan pentingnya transformasi sistem pertahanan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

SBY mendorong pembangunan sumber daya manusia unggul di bidang pertahanan, penguatan penguasaan teknologi militer mutakhir, serta perumusan kebijakan pertahanan yang visioner dan responsif terhadap dinamika global.

“Ini bukan pilihan, tapi keharusan,” tandasnya.

Peringatan tersebut menjadi sinyal tegas bahwa transformasi sistem pertahanan nasional tidak bisa lagi ditunda, terutama dalam menghadapi era perang modern yang serba cepat, presisi, dan berbasis teknologi tinggi.

Terkini