BOJONEGORO, MAHATVA.ID – Industri hulu minyak dan gas (migas) nasional kembali mencatatkan kabar menggembirakan di awal Maret 2026. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengumumkan lonjakan signifikan produksi minyak dari Sumur Banyu Urip A07 di Blok Cepu, Jawa Timur.
Dalam laporannya pada Minggu (1/3/2026), Djoko menyampaikan bahwa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sukses merampungkan kegiatan intervensi sumur (well services) sepanjang Februari 2026 dengan hasil jauh melampaui target.
“Hasil uji produksi pasca-intervensi menunjukkan kenaikan dari 4.800 barel minyak per hari (BOPD) menjadi 12.300 BOPD. Terjadi lonjakan sebesar 7.500 BOPD, jauh di atas target awal 1.000 BOPD,” ungkap Djoko.
Lonjakan ini menjadikan Sumur Banyu Urip A07 sebagai salah satu contoh keberhasilan optimalisasi produksi migas nasional di tahun 2026.
Strategi Water Shut-Off dan Acidizing
Keberhasilan tersebut ditopang strategi teknis yang presisi melalui metode Water Shut-Off (WSO). Tim EMCL memasang bridge plug untuk menyumbat aliran air dari dasar sumur, dilanjutkan dengan re-perforasi serta stimulasi pemompaan zat asam (acidizing).
Metode acidizing bekerja dengan melarutkan sumbatan pada formasi batuan sekaligus menekan produksi air berlebih. Hasilnya, aliran minyak meningkat signifikan dan produksi menjadi lebih optimal.
Catat Rekor Efisiensi Operasi
Tak hanya mencetak lonjakan produksi, operasi ini juga menorehkan dua capaian efisiensi penting:
- Rigless Operation – Seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menyewa rig besar, cukup menggunakan unit wireline dan crane sehingga lebih cepat dan fleksibel.
- Efisiensi Anggaran – Realisasi biaya hanya sekitar 57 persen dari total anggaran yang disetujui, atau terjadi penghematan sekitar 43 persen.
Efisiensi ini menjadi bukti optimalisasi teknologi dan manajemen proyek yang efektif di sektor hulu migas.
Dukung Target Produksi 610.000 BOPD 2026
Tambahan 7.500 BOPD dari satu sumur ini menjadi kontribusi signifikan dalam mendukung target produksi nasional sebesar 610.000 BOPD pada 2026. SKK Migas juga berencana menjadikan metode WSO dan acidizing ini sebagai role model untuk diterapkan pada sumur kandidat lainnya, termasuk penanganan Gas Shut Off (GSO).
Keberhasilan di Blok Cepu menjadi amunisi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor minyak.
Menutup pernyataannya, Djoko Siswanto menyampaikan optimisme tinggi terhadap kinerja sektor migas nasional.
“Lifting naik: BISA BISA BISA!” tegasnya.