berita

21 Tahun Tragedi TPA Leuwigajah: Ledakan Metana dan Tsunami Sampah yang Menewaskan 157 Orang

Minggu, 22 Februari 2026 | 10:55 WIB
21 Tahun Tragedi TPA Leuwigajah: Ledakan Metana dan Tsunami Sampah yang Menewaskan 157 Orang

Cimahi, MAHATVA.ID – Di balik hijaunya kawasan bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hari ini, tersimpan salah satu tragedi lingkungan paling kelam dalam sejarah Indonesia. Tepat 21 Februari 2005, ledakan dahsyat mengguncang TPA Leuwigajah dan mengubah gunungan sampah menjadi gelombang maut.

Selama bertahun-tahun, TPA ini menjadi ruang bertahan hidup bagi para pemulung dari wilayah Bandung Raya. Dari tumpukan limbah setinggi puluhan hingga ratusan meter, mereka mencari plastik, botol, logam, dan barang bekas lain demi menyambung hidup.

Namun, di balik aktivitas rutin itu, ancaman perlahan terakumulasi. Gas metana terperangkap dalam lapisan sampah yang terus menumpuk, menciptakan tekanan yang sewaktu-waktu dapat meledak.

Hujan, Gas Metana, dan Ledakan

Dalam laporan peneliti Jepang Itoch Tochija dalam buku Tragedi Leuwigajah, dini hari 21 Februari 2005 kawasan tersebut diguyur hujan deras. Warga menganggapnya sebagai hujan biasa. Tak ada kepanikan.

Padahal, air hujan mempercepat peningkatan tekanan gas metana sekaligus memperlemah struktur tumpukan sampah yang telah lama tidak stabil.

Tak lama kemudian, ledakan dahsyat terdengar. Api menyembur ke udara. Gunungan sampah runtuh dan bergerak seperti gelombang besar, menyerupai “tsunami sampah”. Dalam hitungan detik, limbah menimbun siapa pun yang berada di sekitarnya.

Tempat mencari nafkah itu berubah menjadi kuburan massal.

157 Korban dan Ratusan Hilang

Selama 15 hari proses evakuasi, tim hanya berhasil menemukan 157 jasad. Ratusan lainnya dinyatakan hilang. Mayoritas korban adalah pemulung dan warga yang tinggal di sekitar TPA.

Selain korban jiwa, rumah warga, fasilitas umum, dan akses jalan hancur tertimbun sampah.

Peristiwa ini kemudian tercatat sebagai insiden TPA terparah kedua di dunia, setelah tragedi di TPA Payatas, Filipina, pada 10 Juli 2000 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Overkapasitas dan Sistem Berbahaya

TPA Leuwigajah yang dibangun pada era 1980-an sebenarnya telah lama melampaui kapasitas. Tim ahli dari Institut Teknologi Bandung menyebut salah satu penyebab utama longsor adalah material sampah yang tidak dipadatkan serta sistem penimbunan dengan lereng tunggal (single slope) yang terlalu curam, mencapai kemiringan lebih dari 45 derajat.

Berdasarkan peta hidrogeologi, terdapat mata air di bawah bagian utara TPA. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari sebelum kejadian membuat struktur sampah semakin tidak stabil.

Tekanan gas metana yang terperangkap akhirnya memicu ledakan besar.

Ironisnya, tanda-tanda bahaya sudah muncul jauh sebelumnya. Retakan tanah, longsor kecil, hingga bau gas menyengat sempat dirasakan warga. Namun, peringatan itu tak ditindaklanjuti secara serius.

Halaman:

Terkini