Depok, MAHATVA.ID – Muhammad Sirod ambil bagian dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 yang diselenggarakan di Depok dengan agenda penguatan strategi komunikasi dan promosi komoditas sawit berbasis data. Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pengelola dana perkebunan, lembaga kajian, pelaku UMKM, serta media dalam satu ruang konsolidasi kebijakan.
Muhammad Sirod hadir sebagai peserta khusus dan mengikuti pembahasan secara penuh dalam sesi paparan dan diskusi yang menitikberatkan pada penguatan promosi sawit nasional secara terukur dan terintegrasi.
Dalam pemaparannya, Helmi Muhansyah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) menjelaskan kerangka program promosi yang terintegrasi dengan pemberdayaan UMKM sawit. Program tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas produk, standardisasi, kurasi, serta perluasan akses pasar melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra media.
Menurut Helmi, skema promosi ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk mempercepat hilirisasi dan memperkuat posisi produk turunan sawit di pasar domestik maupun internasional. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperluas kontribusi UMKM dalam rantai nilai industri sawit nasional.
Sementara itu, Dimas H. Pamungkas, Kepala Divisi Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), menekankan pentingnya narasi berbasis riset dalam komunikasi publik terkait sawit. Ia menegaskan bahwa konsistensi data produksi, kontribusi ekspor, serta indikator keberlanjutan harus menjadi fondasi dalam membangun persepsi publik yang proporsional.
Menurut Dimas, integrasi antara kajian strategis dan kebijakan promosi akan menentukan efektivitas program dalam jangka menengah dan panjang. Tanpa basis data yang kuat, promosi berpotensi kehilangan arah dan tidak mampu menjawab tantangan persepsi global terhadap industri sawit.
Diskusi kemudian berkembang pada hubungan antara promosi dan tata kelola industri. Promosi tidak hanya dipahami sebagai aktivitas komunikasi, melainkan bagian dari kerangka kebijakan yang mencakup penguatan kapasitas pelaku usaha, transparansi informasi, serta harmonisasi regulasi.
UMKM sawit dinilai memerlukan dukungan konkret dalam aspek desain produk, pengemasan, sertifikasi, dan strategi merek agar mampu memenuhi standar pasar modern. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah di tingkat pelaku usaha sekaligus memperluas dampak ekonomi di daerah sentra produksi.
Muhammad Sirod memandang forum ini sebagai ruang konsolidasi gagasan kebijakan yang penting bagi keberlanjutan sektor perkebunan. Ia menilai promosi sawit harus memiliki indikator kinerja yang terukur, termasuk pertumbuhan nilai transaksi UMKM, peningkatan kemitraan, serta efektivitas diseminasi informasi publik.
Koordinasi antara BPDP, lembaga riset, dan asosiasi usaha menjadi prasyarat utama agar program promosi berjalan konsisten, berbasis evaluasi, dan selaras dengan agenda hilirisasi nasional.
Workshop ini menegaskan bahwa komunikasi publik dan pemberdayaan UMKM merupakan bagian integral dari strategi pembangunan industri sawit nasional. Penguatan data, kolaborasi kelembagaan, serta partisipasi aktif pelaku usaha menjadi elemen kunci dalam menjaga daya saing dan stabilitas sektor perkebunan.
Partisipasi Muhammad Sirod sebagai peserta khusus merefleksikan dukungan terhadap pendekatan kebijakan yang presisi, terukur, dan berbasis riset dalam mendorong promosi sawit Indonesia yang berkelanjutan.