berita

Ramadan 2026 di Timur Tengah Lebih Singkat dan Sejuk, Puasa Diperkirakan 12–13 Jam

Rabu, 11 Februari 2026 | 20:49 WIB
Ramadan 2026 di Timur Tengah Lebih Singkat dan Sejuk, Puasa Diperkirakan 12–13 Jam

Bogor, MAHATVA.ID - Umat Muslim di sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, diperkirakan akan menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi dengan durasi yang lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, Ramadan 2026 juga berlangsung dalam kondisi cuaca yang relatif lebih sejuk karena bertepatan dengan musim dingin.

Berdasarkan perhitungan astronomi, durasi puasa di negara-negara Timur Tengah pada Ramadan 2026 diperkirakan hanya berkisar antara 12 hingga 13 jam, lebih pendek dibandingkan beberapa tahun lalu yang mencapai sekitar 14 jam atau lebih.

Dilansir dari CNN, pemendekan durasi puasa ini terjadi seiring pergeseran kalender Hijriah yang bergerak mundur sekitar 10–11 hari setiap tahun dalam kalender Masehi. Pergerakan ini secara bertahap membawa Ramadan memasuki musim dingin.

Mantan profesor iklim Universitas Qassim, Dr Abdullah Al Misnad, menjelaskan bahwa tren pemendekan durasi puasa di Arab Saudi akan terus berlangsung hingga tahun 1454 Hijriah atau sekitar 2032 Masehi, saat Ramadan diperkirakan jatuh pada bulan Desember—bulan dengan durasi siang hari terpendek.

“Seiring berjalannya Ramadan melalui berbagai musim, jam puasa di Arab Saudi semakin pendek setiap tahunnya,” ujar Al Misnad, dikutip dari Gulf News.

Pengaruh Letak Geografis

Perbedaan durasi puasa antarnegara sangat dipengaruhi oleh letak geografis. Negara-negara yang berada dekat garis khatulistiwa cenderung memiliki durasi puasa yang relatif stabil sepanjang tahun.

Sebaliknya, negara-negara yang berada lebih jauh dari khatulistiwa, baik di belahan utara maupun selatan, mengalami variasi durasi puasa yang lebih signifikan. Namun, karena Ramadan 2026 jatuh di musim dingin, negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara akan menikmati durasi puasa yang relatif lebih singkat.

Di Mesir, misalnya, durasi puasa diperkirakan sekitar 12 jam 40 menit. Sementara di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman, waktu puasa berada di rentang 12–13 jam, dengan sedikit perbedaan antarwilayah dan kota.

Perkiraan Awal Ramadan 2026

Arab Saudi biasanya mengumumkan awal Ramadan sehari sebelum pelaksanaan puasa. Namun berdasarkan perhitungan astronomi, puasa Ramadan 2026 diperkirakan akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.

Departemen Astronomi dan Ilmu Antariksa Universitas King Abdulaziz menyebutkan bahwa perkiraan tersebut didasarkan pada pengamatan fase bulan. Meski demikian, tanggal resmi awal Ramadan tetap bergantung pada hasil rukyatul hilal dan keputusan otoritas setempat.

Hilal Diprediksi Sulit Terlihat 17 Februari

Sebagian besar negara Muslim dijadwalkan melakukan pengamatan hilal pada Selasa, 17 Februari 2026. Namun para astronom menilai, secara ilmiah, hilal pada hari tersebut hampir mustahil terlihat.

Pusat Astronomi Internasional (International Astronomy Center/IAC) menyatakan bahwa posisi bulan pada tanggal tersebut belum cukup jauh dari konjungsi untuk membentuk hilal yang dapat diamati, baik dengan mata telanjang, teleskop, maupun teknologi pencitraan modern.

Kesimpulan ini sejalan dengan berbagai kriteria visibilitas hilal internasional, termasuk metode Ibn Tariq, Yallop, Odeh, hingga Observatorium Astronomi Afrika Selatan (SAAO).

Para astronom menjelaskan bahwa di wilayah timur dunia Islam, bulan akan terbenam sebelum matahari. Di wilayah tengah, bulan terbenam hampir bersamaan dengan matahari. Sementara di wilayah barat, bulan hanya terbenam beberapa menit setelah matahari—waktu yang dinilai terlalu singkat untuk memungkinkan terbentuknya hilal.

Halaman:

Terkini