Di sisi lain, dunia usaha menghadapi tantangan serius, termasuk kondisi keuangan BUMN yang terbebani utang.
“PT KAI saja yang seharusnya untung, justru rugi besar. Prabowo lewat program Danantara mencoba memperbaiki, tapi masalahnya pelik dan butuh waktu,” tambahnya.
Tidak Semua Anggota DPR Sama
Menanggapi suara masyarakat yang meminta DPR dibubarkan, Sirod tidak sepakat. Ia menilai tetap ada anggota DPR yang kritis dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Tidak adil jika semua anggota DPR dianggap tidak bermanfaat. Ada yang benar-benar bekerja, hanya saja suara mereka tidak selalu sampai ke publik,” ujarnya.
Sirod juga mengingatkan bahwa isu tunjangan DPR seringkali dipelintir.
“Isu rumah dinas Rp50 juta misalnya, sudah diklarifikasi. Itu anggaran total setahun untuk lima tahun masa jabatan, bukan per bulan. Tapi informasi sepotong di media sosial bikin publik terprovokasi, terutama anak-anak muda,” jelasnya.
Butuh Stabilitas, Bukan Kegaduhan
Ia menegaskan, pemerintah harus lebih sigap melawan hoaks, misinformasi, dan ujaran kebencian di media sosial.
“Kalau dibiarkan masif, dampaknya kontraproduktif bagi dunia usaha. Kita butuh stabilitas, bukan kegaduhan yang memprovokasi demonstrasi merusak,” tegasnya.
Sirod menutup dengan menekankan bahwa banyak capaian positif pemerintah yang patut dijaga, mulai dari program makan bergizi gratis yang sudah menyentuh 21 juta penerima, hingga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.
“Kritik itu penting. Pak Prabowo juga sering menyimak media sosial. Tapi jangan sampai bangsa ini dirusak oleh aksi demonstrasi yang lebih banyak mudarat daripada manfaat,” pungkasnya.