berita

Pesan Sri Mulyani: Jangan Pecah Belah, Mari Bangun Indonesia Bersama

Selasa, 2 September 2025 | 17:50 WIB
Pesan Sri Mulyani: Jangan Pecah Belah, Mari Bangun Indonesia Bersama

Jakarta – MAHATVA.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyerukan agar seluruh elemen bangsa menjaga dan membangun Indonesia secara bersama-sama dengan cara yang beradab, bukan melalui tindakan anarkis.

"Mari kita jaga dan bangun Indonesia bersama, tidak dengan merusak, membakar, menjarah, memfitnah, pecah belah, kebencian, kesombongan, dan melukai serta mengkhianati perasaan publik," tulis Sri Mulyani melalui akun Instagram resminya, @smindrawati, Senin (1/9/2025).

Demokrasi dengan Etika, Bukan Anarki

Menurut Menkeu, membangun Indonesia adalah perjuangan panjang yang tidak mudah, sebagaimana telah ditempuh para pendahulu bangsa. Politik, kata dia, harus dijalankan dengan etika dan moralitas luhur demi tujuan kolektif bangsa.

Sri Mulyani menegaskan, sebagai pejabat negara dirinya terikat sumpah menjalankan UUD 1945 dan undang-undang, bukan berdasarkan selera pribadi. Jika masyarakat merasa hak konstitusinya dilanggar, mekanisme Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi (MK) terbuka. Sementara pelaksanaan UU yang menyimpang dapat digugat melalui pengadilan hingga ke Mahkamah Agung (MA).

"Itu sistem demokrasi Indonesia yang beradab. Pasti belum dan tidak sempurna. Tugas kita terus memperbaiki kualitas demokrasi dengan beradab, tidak dengan anarki, intimidasi, serta represi," ujar Sri Mulyani.

Integritas dan Tugas Pejabat Negara

Menkeu menekankan, pejabat negara wajib menjalankan tugas dengan amanah, integritas, transparansi, profesionalisme, serta bebas dari korupsi. Memimpin kementerian, menurutnya, adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang membutuhkan kebijaksanaan, empati, serta kepekaan mendengar suara rakyat.

"Ini menyangkut nasib rakyat Indonesia dan masa depan bangsa," tegasnya.

Apresiasi untuk Publik

Dalam pesannya, Sri Mulyani juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat luas, mulai dari guru, dosen, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga media massa, yang terus memberikan masukan, kritik, bahkan sindiran.

"Itu bagian dari proses membangun Indonesia. Kami mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Bismillah, kami perbaiki terus menerus. Semoga Allah SWT memberkahi dan melindungi Indonesia. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia," pungkas Menkeu.

Pernyataan Sri Mulyani muncul di tengah meningkatnya ketegangan sosial-politik akibat gelombang demonstrasi dan keresahan publik terhadap kebijakan pemerintah dan DPR. Sejumlah aksi massa belakangan ini diwarnai tindakan anarkis, penjarahan, hingga pembakaran yang membuat situasi semakin rawan.

Ajakan Menkeu ini sejalan dengan instruksi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang sebelumnya meminta kepala daerah menunda perjalanan ke luar negeri serta menahan diri dari pesta mewah demi menjaga stabilitas.

Pengamat politik menilai, pernyataan Sri Mulyani mencerminkan strategi komunikasi empatik pemerintah untuk meredam gejolak dengan pendekatan moral, bukan semata-mata pendekatan keamanan. Dengan menekankan etika demokrasi dan integritas pejabat, Menkeu berusaha mengembalikan kepercayaan publik terhadap negara.

Langkah ini juga dianggap penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, mengingat keresahan sosial kerap berdampak langsung pada iklim investasi, nilai tukar rupiah, dan kepercayaan pasar global terhadap Indonesia.

Terkini