berita

Retrospeksi 35 Tahun Ekowisata, Prof. Ricky Avenzora Kritik Pola Penyegelan Objek Wisata

Senin, 22 September 2025 | 05:21 WIB
Retrospeksi 35 Tahun Ekowisata, Prof. Ricky Avenzora Kritik Pola Penyegelan Objek Wisata

MAHATVA.ID - Indonesia memiliki potensi ekowisata luar biasa dari aspek hayati, geologi, budaya, hingga pesisir. 

Namun, menurut Prof. Ricky Avenzora, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, pembangunan pariwisata selama tiga dekade terakhir masih jauh dari optimal dan tertinggal dari negara tetangga.

Hal itu ia sampaikan dalam Konferensi Pers Pra-Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University bertajuk “Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia”. 

Prof. Ricky, yang akrab disapa Prof. Ara, menilai masih banyak kekayaan Nusantara yang belum tergarap serius, baik dari ribuan folklor, seni tradisional, hingga satwa endemik.

Ia mengungkapkan tiga masalah utama dalam pembangunan pariwisata nasional: devisa dan jumlah wisatawan kalah dibanding negara tetangga, kerusakan alam dan budaya, serta distribusi manfaat yang timpang karena lebih banyak dinikmati kelompok menengah ke atas. 

“Rekreasi dan pariwisata harus dimaknai sebagai perjalanan berkesadaran ilahiah yang bermanfaat bagi semesta. Itulah ekowisata,” ujarnya.

Di bidang pendidikan, Prof. Ara menyoroti jebakan pola vokasional yang membuat kompetensi akademis kurang komprehensif. 

Menurutnya, hal itu berimbas pada lemahnya perencanaan serta buruknya kinerja birokrasi. 

Ia menawarkan solusi berupa academic reengineering, pergeseran paradigma pembangunan yang berpihak pada masyarakat lokal, serta penguatan peran swasta sebagai inkubator bisnis komunal.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung praktik penyegelan dan pembongkaran sejumlah objek wisata di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Menurutnya, tindakan pemerintah tersebut merupakan bentuk individual over acting dan abuse of power yang merugikan banyak pihak. 

“Pola hentikan dan bongkar adalah bentuk arogansi jabatan yang secara hukum tidak dibenarkan, serta secara sosial-ekonomi sangat merugikan masyarakat luas,” tegasnya.

Prof. Ara mendorong agar hak usaha para pelaku wisata dikembalikan serta difasilitasi oleh pemerintah.

Ia mencontohkan EIGER Adventure Land sebagai pengusaha wisata menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata dan semestinya mendapat dukungan penuh.

Terkini